Cara Jitu Menciptakan Dorongan Semangat Untuk Mencapai Target Menjadi "Sesuatu Yang Harus Diperjuangkan.
Talent News
|
Friday, 02 Oct 2026 11:02
WIB
Bagikan:
Ini salah satu hal yang menurut saya menarik ketika kita bekerja di HR, di atas kertas, semuanya terlihat sederhana, target ditetapkan, KPI dibuat, performance diukur dan reward disiapkan, lalu kita berharap:
target naik → effort naik → performance naik.
Tapi praktik di lapangan tidak selalu sesederhana itu, performance bukan hanya tentang seberapa tinggi target yang kita berikan, tetapi juga tentang seberapa kuat dorongan dari dalam diri seseorang untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
Dan di sinilah Achievement Orientation menjadi penting. Bukan sekadar keinginan mencapai target, tetapi dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, menghadapi tantangan, memperbaiki cara kerja, dan terus meningkatkan standar diri.
Langkah terbaik adalah jangan hanya membuat orang mengejar target, buat mereka punya alasan untuk mencapainya.
Dalam praktik HR, saya melihat ada beberapa hal yang sangat mempengaruhi munculnya achievement orientation.
1. Purpose — Tahu mengapa target itu penting Jangan hanya mengatakan: “Bulan ini harus 100%, ”Tetapi jelaskan: “Kalau target ini tercapai, apa dampaknya bagi customer, tim, perusahaan, dan perkembangan kita?” Ketika orang memahami maknanya, target tidak lagi hanya menjadi angka, target menjadi sesuatu yang ingin kita perjuangkan.
2. Ownership — Libatkan mereka dalam mencari jalan Jangan selalu memberikan solusi dari atas, coba tanyakan: “Menurut kamu, apa yang harus kita lakukan agar target ini tercapai?” “Apa hambatan terbesarnya?”, “Support apa yang kamu butuhkan?” Ketika karyawan ikut memikirkan cara mencapainya, muncul rasa memiliki. Target perusahaan mulai terasa menjadi target saya.
3. Recognition — Hargai progres, bukan hanya hasil akhir Jangan hanya melihat siapa yang mencapai target, perhatikan juga: improvement, konsistensi, kualitas proses, dan progress Karena sering kali pencapaian besar dimulai dari perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Di lapangan, saya belajar satu hal, tidak semua karyawan yang performanya tinggi membutuhkan perlakuan yang sama, ada yang justru berkembang ketika diberi tantangan, ada yang membutuhkan arahan yang lebih jelas, ada yang membutuhkan kesempatan mengambil keputusan, ada yang sebenarnya mampu, tetapi kehilangan semangat karena merasa usahanya tidak pernah terlihat, mereka hanya belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk melakukannya.
Karena pada akhirnya, karyawan yang hebat bukan selalu yang sejak awal paling mampu. Tetapi mereka yang memiliki dorongan: “Saya ingin menjadi lebih baik dari kemarin.
”Karena kita tidak mesti lebih baik dari orang lain, yang paling penting kita harus lebih baik dari kemarin"
Dan tugas kita sebagai HR dan leader bukan hanya menetapkan target, tetapi menciptakan kondisi yang membuat orang ingin mencapai target tersebut.
target naik → effort naik → performance naik.
Tapi praktik di lapangan tidak selalu sesederhana itu, performance bukan hanya tentang seberapa tinggi target yang kita berikan, tetapi juga tentang seberapa kuat dorongan dari dalam diri seseorang untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
Dan di sinilah Achievement Orientation menjadi penting. Bukan sekadar keinginan mencapai target, tetapi dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, menghadapi tantangan, memperbaiki cara kerja, dan terus meningkatkan standar diri.
Langkah terbaik adalah jangan hanya membuat orang mengejar target, buat mereka punya alasan untuk mencapainya.
Dalam praktik HR, saya melihat ada beberapa hal yang sangat mempengaruhi munculnya achievement orientation.
1. Purpose — Tahu mengapa target itu penting Jangan hanya mengatakan: “Bulan ini harus 100%, ”Tetapi jelaskan: “Kalau target ini tercapai, apa dampaknya bagi customer, tim, perusahaan, dan perkembangan kita?” Ketika orang memahami maknanya, target tidak lagi hanya menjadi angka, target menjadi sesuatu yang ingin kita perjuangkan.
2. Ownership — Libatkan mereka dalam mencari jalan Jangan selalu memberikan solusi dari atas, coba tanyakan: “Menurut kamu, apa yang harus kita lakukan agar target ini tercapai?” “Apa hambatan terbesarnya?”, “Support apa yang kamu butuhkan?” Ketika karyawan ikut memikirkan cara mencapainya, muncul rasa memiliki. Target perusahaan mulai terasa menjadi target saya.
3. Recognition — Hargai progres, bukan hanya hasil akhir Jangan hanya melihat siapa yang mencapai target, perhatikan juga: improvement, konsistensi, kualitas proses, dan progress Karena sering kali pencapaian besar dimulai dari perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Di lapangan, saya belajar satu hal, tidak semua karyawan yang performanya tinggi membutuhkan perlakuan yang sama, ada yang justru berkembang ketika diberi tantangan, ada yang membutuhkan arahan yang lebih jelas, ada yang membutuhkan kesempatan mengambil keputusan, ada yang sebenarnya mampu, tetapi kehilangan semangat karena merasa usahanya tidak pernah terlihat, mereka hanya belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk melakukannya.
Karena pada akhirnya, karyawan yang hebat bukan selalu yang sejak awal paling mampu. Tetapi mereka yang memiliki dorongan: “Saya ingin menjadi lebih baik dari kemarin.
”Karena kita tidak mesti lebih baik dari orang lain, yang paling penting kita harus lebih baik dari kemarin"
Dan tugas kita sebagai HR dan leader bukan hanya menetapkan target, tetapi menciptakan kondisi yang membuat orang ingin mencapai target tersebut.
#TalentAINews
#TalentCareer
Copyright © 2026 Talent AI