Cara Tepat Mengubah Cara Pandang “ Pak, dari dulu kita sudah melakukan ini. Kenapa sekarang harus diubah?”
Talent News
|
Saturday, 05 Sep 2026 21:11
WIB
Bagikan:
Rapat sosialisasi sistem baru baru saja dimulai. Anda baru selesai menjelaskan proses kerja yang lebih efisien, lebih transparan, lebih mudah dilacak. Lalu satu tangan terangkat, dengan kalimat:
"Tapi Pak, dari dulu kita sudah melakukan ini seperti ini. Selama ini baik-baik saja kok."
Ruangan hening sebentar. Beberapa kepala mengangguk setuju. Dan tanpa disadari, momentum perubahan yang susah payah dibangun mulai terhenti di ruangan itu.
Pada titik ini, kesalahan yang sering dilakukan leader adalah langsung melabeli mereka sebagai “resistant to change” atau bahkan dianggap tidak punya mindset berkembang.
Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika karyawan berkata demikian? Jangan lawan. Ajak mereka merenung, Ketika kita melawan argumen "dari dulu", kita masuk ke dalam pertarungan ego. Kita melawan sejarah, dan sejarah selalu sulit dikalahkan, yang perlu kita lakukan adalah mengubah cara pandang, bukan mengubah sejarah
Berikut 3 pendekatan yang bisa kita terapkan
1. Akui dan Apresiasi (The "Yes, And" Approach)
Jangan mulai dengan "Tapi..." atau "Kamu salah...". Mulailah dengan "Ya, saya setuju. Sistem lama kita memang terbukti berhasil membawa kita ke titik ini, dan itu adalah pencapaian luar biasa. ", Dengan mengakui keberhasilan masa lalu, anda menghilangkan rasa defensif dari tim. Penelitian menunjukkan bahwa ketika karyawan merasa didengar dan dilibatkan sejak awal, tingkat resistensi turun drastis
2. Cari tahu: sebenarnya mereka menolak apa?
Kadang karyawan bukan menolak perubahan, mereka mungkin menolak karena:
a. Tidak memahami alasan perubahan.
b. Merasa cara lama lebih mudah.
c. Khawatir kehilangan kenyamanan.
d. Pernah mengalami perubahan sebelumnya yang gagal.
Jadi sebelum mengatakan “orang ini sulit berubah”, cari tahu dulu apa yang sebenarnya membuatnya sulit berubah.
3. Jelaskan WHY, bukan hanya WHAT.
“Mulai besok kita menggunakan sistem baru.”ini WHAT.
Tetapi karyawan perlu memahami WHY are we changing?
a. Apa masalah yang ingin diselesaikan?
b. Apa manfaatnya?
c. Apa risikonya jika kita tidak berubah?
d. Bagaimana perubahan ini akan membuat pekerjaan lebih baik?
Manusia lebih mudah menerima perubahan ketika mereka memahami alasan di balik perubahan tersebut.
Change Management bukanlah tentang memenangkan argumen. Ini tentang memenangkan hati.
John Kotter merangkumnya dengan tegas: "The biggest challenge in change management is not changing the strategy, structures, or systems; it's changing the behavior of the people."
Ketika seseorang berkata "dari dulu kita begini", sebenarnya mereka sedang berkata "Saya takut kehilangan kenyamanan dan kompetensi saya."
Kegagalan perubahan bukan karena strategi yang buruk—tapi karena mereka yang tidak diajak bersama sejak awal.
Pernahkah Anda menghadapi situasi ini di tempat kerja?
Penulis :
Kiki Sopian, M.M
HR Practitioner | NiatBaik HR Community
"Tapi Pak, dari dulu kita sudah melakukan ini seperti ini. Selama ini baik-baik saja kok."
Ruangan hening sebentar. Beberapa kepala mengangguk setuju. Dan tanpa disadari, momentum perubahan yang susah payah dibangun mulai terhenti di ruangan itu.
Pada titik ini, kesalahan yang sering dilakukan leader adalah langsung melabeli mereka sebagai “resistant to change” atau bahkan dianggap tidak punya mindset berkembang.
Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika karyawan berkata demikian? Jangan lawan. Ajak mereka merenung, Ketika kita melawan argumen "dari dulu", kita masuk ke dalam pertarungan ego. Kita melawan sejarah, dan sejarah selalu sulit dikalahkan, yang perlu kita lakukan adalah mengubah cara pandang, bukan mengubah sejarah
Berikut 3 pendekatan yang bisa kita terapkan
1. Akui dan Apresiasi (The "Yes, And" Approach)
Jangan mulai dengan "Tapi..." atau "Kamu salah...". Mulailah dengan "Ya, saya setuju. Sistem lama kita memang terbukti berhasil membawa kita ke titik ini, dan itu adalah pencapaian luar biasa. ", Dengan mengakui keberhasilan masa lalu, anda menghilangkan rasa defensif dari tim. Penelitian menunjukkan bahwa ketika karyawan merasa didengar dan dilibatkan sejak awal, tingkat resistensi turun drastis
2. Cari tahu: sebenarnya mereka menolak apa?
Kadang karyawan bukan menolak perubahan, mereka mungkin menolak karena:
a. Tidak memahami alasan perubahan.
b. Merasa cara lama lebih mudah.
c. Khawatir kehilangan kenyamanan.
d. Pernah mengalami perubahan sebelumnya yang gagal.
Jadi sebelum mengatakan “orang ini sulit berubah”, cari tahu dulu apa yang sebenarnya membuatnya sulit berubah.
3. Jelaskan WHY, bukan hanya WHAT.
“Mulai besok kita menggunakan sistem baru.”ini WHAT.
Tetapi karyawan perlu memahami WHY are we changing?
a. Apa masalah yang ingin diselesaikan?
b. Apa manfaatnya?
c. Apa risikonya jika kita tidak berubah?
d. Bagaimana perubahan ini akan membuat pekerjaan lebih baik?
Manusia lebih mudah menerima perubahan ketika mereka memahami alasan di balik perubahan tersebut.
Change Management bukanlah tentang memenangkan argumen. Ini tentang memenangkan hati.
John Kotter merangkumnya dengan tegas: "The biggest challenge in change management is not changing the strategy, structures, or systems; it's changing the behavior of the people."
Ketika seseorang berkata "dari dulu kita begini", sebenarnya mereka sedang berkata "Saya takut kehilangan kenyamanan dan kompetensi saya."
Kegagalan perubahan bukan karena strategi yang buruk—tapi karena mereka yang tidak diajak bersama sejak awal.
Pernahkah Anda menghadapi situasi ini di tempat kerja?
Penulis :
Kiki Sopian, M.M
HR Practitioner | NiatBaik HR Community
#TalentAINews
#TalentCareer
Copyright © 2026 Talent AI