HRD Jangan Cuma Sibuk di Meja: Kadang Perusahaan Hanya Butuh “Ngobrol”
Talent News
|
Sunday, 24 May 2026 20:14
WIB
Bagikan:
Senin pagi.
Ada yang teriak, “Ai laf mandei!”
Tapi ada juga yang dalam hati berbisik, “Ai het mandei…”
Sebagian orang datang kerja dengan semangat.
Sebagian lagi datang dengan wajah yang masih loading sejak bangun tidur. Hehehe…
Ada yang teriak, “Ai laf mandei!”
Tapi ada juga yang dalam hati berbisik, “Ai het mandei…”
Sebagian orang datang kerja dengan semangat.
Sebagian lagi datang dengan wajah yang masih loading sejak bangun tidur. Hehehe…
Di tengah target, deadline, dan grup WhatsApp kantor yang kadang lebih aktif daripada grup keluarga, ada satu hal sederhana yang sering dilupakan perusahaan: ngobrol.
Bukan meeting panjang yang slide-nya banyak tapi ujungnya:
“Baik, nanti kita koordinasikan kembali.”
Yang dalam bahasa sehari-hari artinya “ semua masih bingung, tapi bingungnya bersama-sama..”
Yang dimaksud di sini adalah ngobrol yang tulus. Mendengar. Turun langsung ke lapangan. Menyapa manusia sebagai manusia.
Karena sering kali masalah perusahaan bukan kurang aturan, tapi kurang komunikasi.
HRD kadang terlalu lama duduk di balik meja sampai lupa bagaimana suasana nyata di lapangan. Dari ruangan kantor, yang terlihat hanya angka.
- absensi,
- turnover,
- produktivitas,
- laporan disiplin.
Padahal di bawah sana ada cerita yang tidak masuk Excel:
- karyawan yang mulai lelah,
- supervisor yang burnout,
- komunikasi atasan yang terlalu keras – mungkin juga terlalu lembek?,
- atau pekerja yang sebenarnya punya ide bagus tapi takut bicara.
Dan semua itu biasanya baru muncul saat ada percakapan yang hangat.
Karyawan sebenarnya tidak selalu menuntut hal besar. Banyak dari mereka hanya ingin didengar, dihargai, dan dianggap penting.
Kadang seseorang bertahan di perusahaan bukan karena gajinya paling tinggi, tetapi karena merasa “Di sini saya dianggap manusia.”
Kalimat sederhana, tapi nilainya mahal.
Dalam Islam, kekuatan mendengar dan bermusyawarah juga diajarkan sangat indah. Allah berfirman:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159)
Rasulullah Muhammad SAW, juga memberi teladan luar biasa dalam mendengar keluhan dan memahami manusia. Beliau tidak memimpin dengan jarak dan dingin. Beliau hadir, mendengar, lalu memberi solusi dengan hikmah, penuh kehangatan.
Ini pelajaran penting bagi HRD dan para pemimpin, jangan tunggu masalah meledak dulu baru turun lapangan.
Jangan tunggu suasana kantor panas dulu baru semua mendadak rajin “silaturahmi”. Hehehe…
Karena hubungan kerja yang sehat dibangun dari komunikasi yang rutin, bukan hanya saat krisis.
Pengusaha punya tekanan.
Pekerja juga punya beban.
Pekerja juga punya beban.
Kalau dua-duanya sibuk tapi tidak pernah benar-benar ngobrol, yang muncul biasanya prasangka. Padahal sering kali, setelah duduk bersama dan saling mendengar, suasana langsung mencair.
Ngobrol yang baik itu seperti oli pada mesin. Kelihatannya sederhana, tapi tanpa itu semuanya cepat panas.Maka, HRD yang kuat bukan hanya yang pintar membuat aturan, tetapi yang mau turun, mendengar, dan hadir di tengah manusia. Karena ide perbaikan terbaik sering lahir bukan dari ruang meeting, tetapi dari percakapan sederhana yang jujur dan tulus.
Jadi kalau hari ini Anda bertemu tim Anda, cobalah lebih banyak ngobrol daripada sekadar memberi instruksi.
Siapa tahu…
Masalah yang selama ini terasa “berat dan strategis” ternyata selesai hanya dengan duduk sebentar, minum kopi, lalu berkata, “Ceritakanlah, saya siap mendengar kok.”
Masalah yang selama ini terasa “berat dan strategis” ternyata selesai hanya dengan duduk sebentar, minum kopi, lalu berkata, “Ceritakanlah, saya siap mendengar kok.”
Dan percayalah…kadang itu lebih ampuh daripada meeting 2 jam yang ujungnya tetap ditutup dengan kalimat “Baik, nanti kita buat grup WA baru.” Hehehe…
Yuk kita ngobrol...!
Penulis: Marhansyah, CPHRM
HR, Labor & Employment Law Practitioner | Industrial Relations & HR Strategy Specialist
#TalentAINews
#TalentCareer
Copyright © 2026 Talent AI