Kenapa Talent Terbaik (Best Talent) Pergi?
Talent News
|
Thursday, 27 Aug 2026 00:49
WIB
Bagikan:
Pagi ini di sudut kota Balikpapan, sambil menikmati kopi dan sarapan, saya dan dua rekan dari industri tambang serta manufaktur berdiskusi tentang satu fenomena aneh: Kenapa di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, perusahaan justru makin sering ditinggal oleh best talent mereka? Ternyata, loyalitas bukan lagi soal bertahan, tapi tentang ruang untuk bertumbuh.
Teman saya dari industri tambang, satunya lagi dari industri manufacturing. Dari bahasan panjang, dapat disimpulkan bahwa beberapa hal yang menjadi push factor seorang best talent pergi :
1. Kurangnya Apresiasi, masih ada perusahaan menganggap bahwa berprestasi atau mencapai target KPI adalah bentuk kewajiban sehingga jika seorang pegawai mencapai target dianggap biasa dan tidak ada recognition atas pencapaiannya. Bahkan tak sedikit perusahaan yang memberikan sanksi kepada pegawai yang belum mencapai target KPI nya, dengan mengabaikan proses coaching maupun mentoring yang semestinya dilakukan agar pegawai tersebut dapat memperbaiki kinerjanya.
2. Kebosanan dan kurangnya tantangan, ini mungkin terdengar aneh ya? namun percaya atau tidak seorang best talent ketika mendapatkan pekerjaan yang monoton dan minim tantangan akan mudah mudah merasa bosan, sehingga mereka akan mencoba mencari tantangan baru diluar. Tujuannya apa? agar ide mereka, gagasan mereka, pencapaian mereka bisa lebih growing up lagi.
3. Tidak ada talent mapping yang jelas, sehingga dia merasa akan "mati" ditempat yang sama, karena seperti disampaikan diatas seorang best talent akan terus mencari tantangan dan jika tidak ada telant mapping yang jelas, mereka akan mencarinya diluar. Mereka membutuhkan kejelasan arah karir, dibenaknya akan selalu ada pertanyaan "what next?". Salah satu ciri tidak adanya talent mapping yang jelas adalah tidak ada program pelatihan/ training yang jelas. Sehingga pengembangan karyawan stuck.
4. Toxic environment, ini bahasa anak Gen Z banget ya. But, actually it's true. tempat kerja atau lingkungan kerja toxic akan sangat membuat best talent tidak nyaman, karena mereka ingin fokus pada kinerja terbaik mereka. there's no time for gossip atau hal toxic lainnya.
5. Burnout (Kelelahan yang berlebihan), burnout bisa terjadi karena banyak faktor. Dalam view saya burn out bisa terjadi misalkan akibat target yang tinggi namun minim support, best talent suka tantangan, suka dengan target yang bisa memacu adrenaline. Namun ketika diberi target tinggi disisi lain minim support dari perusahaan baik berupa fasilitas, kebijakan atau hal lainnya ini akan membuat mereka sangat stress.
Dalam view kami, 5 hal ini yang membuat best talent bisa pergi meninggalkan perusahaan tempat mereka bekerja saat ini. Mereka pergi bukan karena tidak loyal dengan perusahaan namun mereka membutuhkan ruang untuk bertumbuh, memerlukan lingkungan yang positive dan memerlukan support agar setiap target yang diberikan dapat mereka realisasikan.
Deni Suryana
Teman saya dari industri tambang, satunya lagi dari industri manufacturing. Dari bahasan panjang, dapat disimpulkan bahwa beberapa hal yang menjadi push factor seorang best talent pergi :
1. Kurangnya Apresiasi, masih ada perusahaan menganggap bahwa berprestasi atau mencapai target KPI adalah bentuk kewajiban sehingga jika seorang pegawai mencapai target dianggap biasa dan tidak ada recognition atas pencapaiannya. Bahkan tak sedikit perusahaan yang memberikan sanksi kepada pegawai yang belum mencapai target KPI nya, dengan mengabaikan proses coaching maupun mentoring yang semestinya dilakukan agar pegawai tersebut dapat memperbaiki kinerjanya.
2. Kebosanan dan kurangnya tantangan, ini mungkin terdengar aneh ya? namun percaya atau tidak seorang best talent ketika mendapatkan pekerjaan yang monoton dan minim tantangan akan mudah mudah merasa bosan, sehingga mereka akan mencoba mencari tantangan baru diluar. Tujuannya apa? agar ide mereka, gagasan mereka, pencapaian mereka bisa lebih growing up lagi.
3. Tidak ada talent mapping yang jelas, sehingga dia merasa akan "mati" ditempat yang sama, karena seperti disampaikan diatas seorang best talent akan terus mencari tantangan dan jika tidak ada telant mapping yang jelas, mereka akan mencarinya diluar. Mereka membutuhkan kejelasan arah karir, dibenaknya akan selalu ada pertanyaan "what next?". Salah satu ciri tidak adanya talent mapping yang jelas adalah tidak ada program pelatihan/ training yang jelas. Sehingga pengembangan karyawan stuck.
4. Toxic environment, ini bahasa anak Gen Z banget ya. But, actually it's true. tempat kerja atau lingkungan kerja toxic akan sangat membuat best talent tidak nyaman, karena mereka ingin fokus pada kinerja terbaik mereka. there's no time for gossip atau hal toxic lainnya.
5. Burnout (Kelelahan yang berlebihan), burnout bisa terjadi karena banyak faktor. Dalam view saya burn out bisa terjadi misalkan akibat target yang tinggi namun minim support, best talent suka tantangan, suka dengan target yang bisa memacu adrenaline. Namun ketika diberi target tinggi disisi lain minim support dari perusahaan baik berupa fasilitas, kebijakan atau hal lainnya ini akan membuat mereka sangat stress.
Dalam view kami, 5 hal ini yang membuat best talent bisa pergi meninggalkan perusahaan tempat mereka bekerja saat ini. Mereka pergi bukan karena tidak loyal dengan perusahaan namun mereka membutuhkan ruang untuk bertumbuh, memerlukan lingkungan yang positive dan memerlukan support agar setiap target yang diberikan dapat mereka realisasikan.
Deni Suryana
#TalentAINews
#TalentCareer
Copyright © 2026 Talent AI