Kudu Seubeuh Méméh Dahar, Kudu Nepi Méméh Indit

Talent News | Friday, 10 Jul 2026 00:20 WIB
Bagikan:
*Belajar dari Papatah Buhun Sunda*

_"Kudu Seubeuh Méméh Dahar, Kudu Nepi Méméh Indit"_

Pernahkah kita membayangkan sebuah perjalanan tanpa persiapan? Bayangkan  kita pergi mendaki gunung atau sekadar menempuh perjalanan jauh melintasi kota, namun tanpa membawa bekal, peta, atau perkiraan waktu yang matang. Apa yang terjadi? Kemungkinan besar kita akan kelelahan di tengah jalan, kebingungan, atau bahkan tersesat atau mungkin yang paling tragis kehilangan nyawa. 

Dalam khazanah budaya Sunda, ada sebuah mutiara kebijaksanaan (papatah ti buhun) yang sangat luar biasa dari para karuhun (leluhur (buhun)) kita: 

_“Kudu seubeuh méméh dahar, kudu nepi méméh indit.”_

Jika diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia, kalimat ini berarti "Harus kenyang sebelum makan, harus sampai sebelum berangkat". 

Kalimat ini mungkin terdengar agak janggal, ya? Bagaimana mungkin kita sudah kenyang sebelum makan? Dan bagaimana bisa kita sudah sampai di tujuan padahal kita bahkan belum melangkahkan kaki? Mari kita selami makna indahnya yang tidak sekadar berbicara tentang makan dan bekal perjalanan fisik, melainkan tentang peta kehidupan manusia. 

*Pikiran yang Matang adalah "Rasa Kenyang" Kita*

Mari kita bedah bagian pertama: _Kudu seubeuh méméh dahar_ (Harus kenyang sebelum makan). 

Dulu, ketika orang tua kita hendak bepergian jauh atau bekerja seharian di ladang, mereka memastikan perut mereka terisi terlebih dahulu. Perut yang kenyang bukan hanya sekadar untuk menghilangkan lapar, tetapi juga menjadi modal tenaga agar mereka tidak mudah lelah atau tumbang di tengah jalan. 

Dalam konteks kehidupan modern saat ini, "perut kenyang" ini adalah metafora untuk persiapan mental dan pengetahuan. Sebelum kita memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan besar—baik itu memulai usaha, menikah, pindah pekerjaan, atau mengambil komitmen baru—kita harus "mengenyangkan" diri kita dengan ilmu dan pertimbangan. 

Kita perlu belajar, menganalisis risiko, dan memikirkan dampaknya ke depan. Dengan membekali diri melalui persiapan yang matang, kita tidak akan mudah goyah, panik, atau "lapar mata" saat menghadapi masalah. Kita sudah siap secara mental karena kita telah "makan" pengalaman dan pengetahuan sebelumnya. 

*Fokus dan Perhitungan adalah "Tujuan Kita"*
Sekarang, mari kita lihat bagian kedua: _Kudu nepi méméh indit_ (Harus sampai sebelum berangkat). 

Ini bukan berarti kita harus bisa berteleportasi atau melipat ruang dan waktu. Pepatah ini mengajarkan kita tentang pentingnya visi, tujuan, dan perencanaan. 
Sebelum melangkahkan kaki ke luar rumah, kita biasanya menentukan ke mana arah kita pergi dan moda transportasi apa yang akan digunakan, bukan? Jika kita tidak tahu ke mana kita akan pergi, setiap jalan yang kita lalui akan terasa sama saja dan tak tentu arahnya. 

Artinya, sebelum kita memulai suatu pekerjaan atau rencana, kita harus sudah tahu gambaran hasil akhirnya. Kita harus merancang prosesnya dengan cermat. Dengan memvisualisasikan tujuan akhir, langkah-langkah yang kita ambil di masa kini akan jauh lebih terarah. Kita tahu persis apa yang harus dilakukan di langkah pertama, kedua, hingga kita akhirnya "sampai" di tujuan yang kita impikan. 

*Menjadikan Hidup Lebih Tenang* 

Papatah Sunda Buhun ini seolah menampar kita dengan lembut dari kebiasaan buruk manusia modern: sering bertindak tergesa-gesa tanpa perhitungan (grusa-grusu). Seringkali kita terjebak dalam pola “jalanin aja dulu” tanpa tahu arah, atau langsung mengambil keputusan besar hanya karena terbawa emosi sesaat. 

Dengan merenungkan _Kudu seubeuh méméh dahar, kudu nepi méméh indit_, kita diajak untuk menjadi pribadi yang lebih bijak. Menjadi seseorang yang menaruh kehati-hatian sebelum bertindak, dan memiliki visi yang jelas ke depan. 

Hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang. Ibarat menaiki perahu di tengah samudra, kita tidak boleh hanya mengandalkan angin yang meniup layar. Kita harus memastikan perahu kita kokoh, perbekalan kita cukup (_seubeuh memeh dahar_), dan kita tahu ke pelabuhan mana perahu ini harus berlabuh (_nepi memeh indit_). 

Jadi, sudahkah kita "kenyang" dengan ilmu dan persiapan hari ini? Dan sudahkah kita tahu ke mana arah "tujuan" hidup kita? Mari melangkah dengan bijak, menata rencana, dan menikmati setiap proses perjalanan hidup kita.
#TalentAINews #TalentCareer

Copyright © 2026 Talent AI