Kunci Membangun Tim yang Optimis dan Resilient

Talent News | Friday, 08 May 2026 20:34 WIB
Bagikan:
Kunci Membangun Tim yang Optimis dan Resilient
Doc: Talent Media / Kunci Membangun Tim yang Optimis dan Resilient
Ketika perusahaan secara konsisten berinvestasi dalam pengembangan karyawan, mereka mengirimkan pesan kuat: “Kami percaya kamu bisa berkembang. Kami siap mendukungmu.” Pesan ini mengubah cara karyawan memandang tantangan. Alih-alih melihat tekanan sebagai ancaman, mereka mulai melihatnya sebagai kesempatan belajar. Optimisme pun tumbuh secara alami. Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa sebagian karyawan tetap tenang dan fokus di tengah tekanan deadline, sementara yang lain mudah goyah hanya karena perubahan kecil? Jawabannya bukan sekadar “bakat alami” — melainkan psikologis optimis yang bisa dibangun secara sistematis. Dan salah satu cara paling strategis untuk membangunnya adalah melalui pelatihan dan pengembangan karyawan (Learning & Development) Kita sering mengira pelatihan hanya tentang upskilling. Faktanya, lebih dalam dari itu, ia adalah alat strategis untuk membangun psikologis optimis dan motivasi intrinsik. Di tempat kerja, tekanan seringkali menciptakan rasa “terjebak”. Pelatihan adalah penawarnya. Saat perusahaan memberikan Individual Development Plan atau ragam program belajar, karyawan merasa memegang kendali atas arah kariernya. Mereka bukan cuma pion yang menunggu perintah, melainkan individu berdaya yang merancang masa depannya sendiri. Tekanan dan stres seringkali muncul bukan karena tugasnya berat, melainkan karena rasa tidak mampu. Di sinilah kebutuhan competence berperan. Dengan pelatihan yang tepat — baik teknis maupun ketahanan mental — karyawan membangun keyakinan: “Saya punya alat untuk menyelesaikan ini.” Dalam bahasa psikologi, ini memperkuat self-efficacy, fondasi utama optimisme. Mereka berubah dari "Ini sulit, saya tidak bisa" menjadi "Ini sulit, dan saya sedang belajar untuk menaklukkannya." Pelatihan yang melibatkan mentoring, coaching, atau belajar dalam kelompok menciptakan jaring pengaman psikologis. Karyawan tahu ada yang mendukung perkembangan mereka, bukan hanya mengevaluasi kinerja. Saat atasan berperan sebagai coach yang mendampingi, pesannya kuat: “Kamu kami dukung untuk sukses.” Self-Determination Theory (SDT) dari Edward Deci dan Richard Ryan. Teori ini menegaskan: manusia akan optimal secara psikologis saat tiga kebutuhan dasarnya terpenuhi — Otonomi (Autonomy), Kompetensi (Competence), dan Keterhubungan (Relatedness). Dan di sinilah peran krusial pelatihan & pengembangan. "Training isn't just upskilling. It's building optimistic, resilient minds." Apakah perusahaan Anda sudah menjadikan pengembangan sebagai strategi membangun ketangguhan mental? Atau Anda punya pengalaman pribadi saat pelatihan mengubah cara pandang Anda menghadapi tekanan? Bagikan di kolom komentar — saya ingin belajar dari cerita Anda.

Penulis :
Kiki Sopian, M.M - HR Expert | Trainer | Niat Baik HR Community
 #PengembanganSDM #OptimismeDiTempatKerja #Resiliensi #MotivasiKaryawan #PsikologiPositif #LearningAndDevelopment
#TalentAINews #TalentCareer

Copyright © 2026 Talent AI