Membentuk Lingkungan Yang Mendukung Ownership, Bukan Cuma Slogan
Talent News
|
Friday, 09 Oct 2026 22:10
WIB
Bagikan:
Pernah menemukan karyawan yang sebenarnya kompeten, dan tahu apa yang harus dikerjakan, tetapi selalu menunggu instruksi?
Ketika ada masalah, menunggu disuruh. Ketika melihat pekerjaan yang belum selesai, menunggu ditugaskan.
Kita sering buru-buru menilai karyawan yang pasif sebagai kurang inisiatif atau tidak memiliki rasa tanggung jawab. Namun, apakah selalu demikian?
Ada juga lingkungan kerja yang tanpa sadar membentuk perilaku pasif. Karyawan yang mencoba melakukan sesuatu di luar kebiasaan justru dianggap melangkahi atasan.
Lama-kelamaan, karyawan belajar satu hal: “Lebih aman menunggu instruksi daripada mengambil risiko.”
Jika kondisi ini terus berlangsung, perusahaan mungkin memiliki banyak karyawan yang patuh, tetapi belum tentu memiliki banyak karyawan yang merasa memiliki.
Menurut saya, ownership bukan sekadar kesediaan menyelesaikan pekerjaan. Ownership adalah sikap ketika seseorang merasa bahwa hasil pekerjaannya merupakan tanggung jawabnya, bukan sekadar tugas yang harus diselesaikan.
Ownership tidak cukup dibangun dengan slogan: “Jadilah karyawan yang memiliki rasa tanggung jawab”
Ownership perlu didukung oleh lingkungan kerja yang membuat karyawan berani mengambil tanggung jawab.
Karena karyawan sulit merasa memiliki jika mereka hanya diberi tugas, tetapi tidak pernah diberi kepercayaan.
Di sinilah peran atasan dan HR menjadi penting: bukan hanya menuntut perubahan perilaku, tetapi juga membangun sistem dan kebiasaan yang mendukungnya.
Menurut saya, ada 3 hal yang perlu dilakukan secara konsisten.
1. Ubah cara memberikan tugas menjadi memberikan tanggung jawab. Jangan hanya menjelaskan apa yang harus dikerjakan. Jelaskan juga mengapa pekerjaan itu penting, hasil seperti apa yang diharapkan, dan dampaknya bagi tim maupun pelanggan.
2. Bangun kebiasaan bertanya, bukan sekadar memerintah. tidak selalu berkata, “Kerjakan ini sekarang”, atasan dapat bertanya: “Apa masalah yang kamu lihat?” “Menurut kamu, apa solusi yang paling memungkinkan?” “Apa yang bisa kamu lakukan tanpa harus menunggu saya?” Pertanyaan sederhana dapat melatih cara berpikir, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab.
3. Apresiasi perilaku ownership, bukan hanya hasil akhir. Hargai karyawan yang berani menyampaikan risiko, mengambil inisiatif yang tepat, membantu menyelesaikan masalah, dan melakukan perbaikan. Sebab, jika perusahaan hanya menghargai hasil akhir, perilaku positif yang menghasilkan proses kerja lebih baik bisa luput dari perhatian.
Pada akhirnya, budaya ownership tidak terbentuk dalam satu kali training atau melalui tulisan di dinding perusahaan. Ia tumbuh dari perilaku yang diulang, kepemimpinan yang memberi teladan, kepercayaan yang diberikan, dan sistem yang konsisten.
Nobody washes a rental car. People will go the extra mile only if they feel they have ownership.
Ketika ada masalah, menunggu disuruh. Ketika melihat pekerjaan yang belum selesai, menunggu ditugaskan.
Kita sering buru-buru menilai karyawan yang pasif sebagai kurang inisiatif atau tidak memiliki rasa tanggung jawab. Namun, apakah selalu demikian?
Ada juga lingkungan kerja yang tanpa sadar membentuk perilaku pasif. Karyawan yang mencoba melakukan sesuatu di luar kebiasaan justru dianggap melangkahi atasan.
Lama-kelamaan, karyawan belajar satu hal: “Lebih aman menunggu instruksi daripada mengambil risiko.”
Jika kondisi ini terus berlangsung, perusahaan mungkin memiliki banyak karyawan yang patuh, tetapi belum tentu memiliki banyak karyawan yang merasa memiliki.
Menurut saya, ownership bukan sekadar kesediaan menyelesaikan pekerjaan. Ownership adalah sikap ketika seseorang merasa bahwa hasil pekerjaannya merupakan tanggung jawabnya, bukan sekadar tugas yang harus diselesaikan.
Ownership tidak cukup dibangun dengan slogan: “Jadilah karyawan yang memiliki rasa tanggung jawab”
Ownership perlu didukung oleh lingkungan kerja yang membuat karyawan berani mengambil tanggung jawab.
Karena karyawan sulit merasa memiliki jika mereka hanya diberi tugas, tetapi tidak pernah diberi kepercayaan.
Di sinilah peran atasan dan HR menjadi penting: bukan hanya menuntut perubahan perilaku, tetapi juga membangun sistem dan kebiasaan yang mendukungnya.
Menurut saya, ada 3 hal yang perlu dilakukan secara konsisten.
1. Ubah cara memberikan tugas menjadi memberikan tanggung jawab. Jangan hanya menjelaskan apa yang harus dikerjakan. Jelaskan juga mengapa pekerjaan itu penting, hasil seperti apa yang diharapkan, dan dampaknya bagi tim maupun pelanggan.
2. Bangun kebiasaan bertanya, bukan sekadar memerintah. tidak selalu berkata, “Kerjakan ini sekarang”, atasan dapat bertanya: “Apa masalah yang kamu lihat?” “Menurut kamu, apa solusi yang paling memungkinkan?” “Apa yang bisa kamu lakukan tanpa harus menunggu saya?” Pertanyaan sederhana dapat melatih cara berpikir, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab.
3. Apresiasi perilaku ownership, bukan hanya hasil akhir. Hargai karyawan yang berani menyampaikan risiko, mengambil inisiatif yang tepat, membantu menyelesaikan masalah, dan melakukan perbaikan. Sebab, jika perusahaan hanya menghargai hasil akhir, perilaku positif yang menghasilkan proses kerja lebih baik bisa luput dari perhatian.
Pada akhirnya, budaya ownership tidak terbentuk dalam satu kali training atau melalui tulisan di dinding perusahaan. Ia tumbuh dari perilaku yang diulang, kepemimpinan yang memberi teladan, kepercayaan yang diberikan, dan sistem yang konsisten.
Nobody washes a rental car. People will go the extra mile only if they feel they have ownership.
#TalentAINews
#TalentCareer
Copyright © 2026 Talent AI