Seni Memberi Feedback: Membuka "Blind Spot" demi Tim yang Tumbuh
Talent News
|
Friday, 03 Jul 2026 22:48
WIB
Bagikan:
Sebagai leader, kita sering terjebak di dua kutub ekstrem saat memberi feedback: terlalu takut menyinggung sehingga semua terasa "baik-baik saja", atau terlalu blak-blakan sampai melukai motivasi.
Ketakutan ini membuat banyak leader mundur ke zona aman. Blind Spot dibiarkan membesar. Masalah kecil mengendap jadi bom waktu. Dan pertumbuhan tim berjalan di tempat.
Blind Spot dalam terori The Johari Window adalah yang orang lain tahu mengenai sifat atau pikiran seseorang, tapi orang tsb tidak sadar.
Pertanyaannya: Bagaimana cara menyampaikan feedback yang jujur, namun tetap membangun dan mendorong pertumbuhan?
feedback yang efektif bukan soal siapa yang paling vokal, melainkan siapa yang paling presisi dan peduli. Berikut 3 prinsip memberikan feedback yang baik
1. Spesifik & Berbasis Perilaku, Bukan Label
Hindari generalisasi seperti "Kamu kurang proaktif." Kata "kurang proaktif" adalah label yang mematikan.
Ubah menjadi observasi perilaku: Kita bisa menggunakan teknik B.I.O
Teknik B.I.O adalah singkatan dari Behavior, Impact, Option. Ini adalah struktur kalimat yang memisahkan manusia dari masalahnya, sehingga feedback terasa sebagai bantuan, bukan serangan pribadi
“Saya perhatikan dalam 3 meeting terakhir, kamu jarang menyampaikan ide (B). Padahal saya tahu kamu punya banyak insight untuk membantu project ini berhasil dengan baik (I). Ada yang bisa saya bantu untuk mendorong partisipasimu?”(O)
Fokus pada aksi spesifik yang bisa diubah, bukan karakter yang melekat.
2. Fokus ke Masa Depan, Bukan "Autopsi" Masa Lalu
Feedback terbaik bukanlah pengadilan untuk kesalahan kemarin, melainkan bahan bakar untuk perbaikan esok.tanyakan:
“Apa yang kita pelajari dari sini?”
“Apa yang akan kamu lakukan berbeda minggu depan?”
Ini menggeser energi dari rasa bersalah menjadi solusi.
3. Jadikan Komunikasi Dua Arah (Bukan Monolog)
Saya punya aturan sederhana: setelah menyampaikan feedback, diamlah. Beri ruang.
Tanyakan: “Bagaimana pandanganmu tentang ini?” atau “Apa yang kamu rasakan saat mengerjakan tugas tadi?”
Kita mungkin hanya melihat 10% dari "gunung es" masalah yang dihadapi anggota tim. Mungkin dia butuh resources, mungkin ada kendala di lapangan yang tidak kita tahu. Dengarkan dulu sebelum menghakimi.
Saat Anda secara konsisten memberi feedback dan mendorong refleksi, kadang anggota tim menemukan potensi yang bahkan tidak pernah mereka duga.
Di sinilah leader bertransformasi menjadi fasilitator penemuan diri. Anda tidak hanya mengelola output kerja, tapi mengembangkan manusia seutuhnya.
Sebagai leader, jangan pernah bosan mengecilkan Blind Spot tim Anda. Tapi lakukan dengan cara yang membuat mereka berkata dalam hati, "Terima kasih sudah memberitahu saya. Saya tidak sadar akan hal itu."
Sekarang giliran Anda:
Pendekatan apa yang paling menantang saat Anda harus memberi feedback ke tim?
Penulis : Kiki Sopian, M.M
HR Practitioner | Trainer| Niat Baik HR Community
#TalentAINews
#TalentCareer
Copyright © 2026 Talent AI